Jalangkote
Jalangkote khas Makasar mirip dengan pastel. Perbedaanya terletak di kulit pastel yang lebih tebal dibandingkan dengan jalangkote. Sehingga, tekstur kulit jalangkote lebih garing atau crispy.
#PalmiaPoints2021
Bahan :
12 kulit lumpia (siap pakai)
1 sdm tepung terigu
2 sdm air
Minyak untuk menggoreng
Bahan Isi :
200 gr udang kupas dicincang kasar
4 siung bawang putih, cincang halus
2 sdm Palmia Margarin Serbaguna
150 gr ayam cincang
1 batang daun bawang, diiris halus
1/2 sdt garam
1/4 sdt merica
1 sdm gula pasir
150 gr tahu, dicincang kasar
100 gr tauge
1 lembar sawi putih, diiris halus
Bahan saus :
4 sdm wijen sangrai, dihaluskan
1/2 sdm cuka
7 butir bawang merah, dicincang halus
3 sdm kecap asin
1/2 sdt SKM
100 ml air
Cara membuat :
1. Buat isi, panaskan Palmia Margarin Serbaguna, tumis bawang putih sampai harum lalu masukkan udang dan daging ayam cincang. Aduk sampai berubah warna. Tambahkan daun bawang, garam, merica, gula pasir dan tahu, aduk rata.
2. Masukkan tauge dan sawi, aduk rata kembali, masak hingga bumbu meresap
3. Isikan ke kulit lumpia, gulung dan rekatkan dengan larutan tepung terigu. Goreng sampai kering
4. Rebus bahan saus sampai mendidih, sajikan Mandoo hangat dengan Saus.
Jalangkote khas Makasar mirip dengan pastel. Perbedaanya terletak di kulit pastel yang lebih tebal dibandingkan dengan jalangkote. Sehingga, tekstur kulit jalangkote lebih garing atau crispy.
Dulunya...saya adalah orang yang jarang sekali ngoprek dapur, rasanya malas sekali mau masak. Dalam pikiran saya selalu berkata, masak itu susah, ngepasin bumbu supaya rasanya tidak cemplang itu susah...ini pasti gagal...ini pasti tidak enak Dan memang seringnya ketika saya masak hasilnya ajaib hahahhaa...kala kata orang Jawa "rasane ora ngalor ora ngidul" atau ngga jelas hahaha. Jadilah saya semakin malas ke dapur...tapi tidak mungkin juga kan setiap hari membeli makanan. Akhirnya saya tetep masak buat anak-anak. Memasak karena kebutuhan, tapi ngga happy, rasanya juga masih srg cemplang ?? Kalau baking, sejak kecil saya suka baking, yahhh baking ala bocah yang penting happy..soal rasa nomor sekian haha, tapi semenjak saya kuliah saya tidakn pernah baking lagi. Ketika pandemi melanda, dan mati gaya menyerang saya...saya mulai ngelirik dapur. Mencoba aneka macam resep. Sejak saat itu saya jadi suka ngoprek dapur, bukan hanya baking, saya mulai belajar cooking jg. Dan saya menemukan "me time" ketika ngoprek dapur, sejenak berhenti dari pikiran yang berisik. Ada kebahagian sendiri ketika melakukan itu. Dan kebahagian itu bertambah ketika melihat ekspresi suami dan anak-anak yang menyukai masakan saya.
Setiap hari raya saya selalu berjualan kue kering dan kue basah untuk menunjang uang jajan anak-anak saya. Membuat resep-resep sendiri adalah aktifitas menyenangkan yang saya lakukan setiap mendekati hari raya besar. Selain menguntungkan karena bisa dijual, saya juga bisa berbagi berkat dengan tetangga lewat makanan-makanan buatan sendiri.
Tahun lalu aku melewati outlet makanan yang antrian pembelinya lumayan banyak. Di depan outlet tertulis nama menunya Martabak Jepang. Karena penasaran tapi malas antri, aku mencoba order lewat salah aplikasi. Ternyata martabak Jepang ini mirip okonomiyaki tapi sayuran yang dipakai hanya daun bawang dan kol saja. Tektur martabak jepang ini lembut banget dan creamy. Kali ini saya mencoba berbagi resep martabak Jepang versi saya.